Sejarah Terasi Cirebon Jadi Alat Barter Laksamana Cheng Ho

Oleh-oleh Khas Cirebon MAMI - Nama Cirebon diyakini terambil dari dua istilah, yakni Cai dan Rebon. Cai dalam bahasa sunda berarti air dan Rebon adalah sebutan untuk udang kecil.

Sejak dulu masyarakat Cirebon sangat menggantungkan hidup pada hasil tangkapan rebon. Faktor inilah yang diduga memunculkan nama Cirebon.

Ketergantungan hidup terhadap rebon membuat nelayan pesisir Cirebon mengolah rebon menjadi berbagai panganan komersil, termasuk bumbu masak terasi. Ya, terasi merupakan bumbu masakan khas Cirebon yang nama dan baunya kesohor hingga pelosok nusantara. Bahkan, bumbu masakan ini dilirik sejumlah negara di Asia dan Eropa.

Hal ini dibenarkan budayawan dan sejarawan asal Cirebon, Opan Safari. Ia mengatakan sejak zaman dulu Terasi Cirebon menjadi incaran berbagai daerah. "Terasi ini bukan hanya sekedar bumbu masakan belaka mas. Akan tetapi terasi menjadi saksi sejarah antara Cirebon dan bangsa Tiongkok yang saat itu terjalin hubungan yang erat," kata Opan kepada merahputih.com, Minggu (26/6).

Dengan gamblang Opan menjelaskan, Tahun 1415 rombongan bangsa Tiongkok yang dipimpin langsung oleh Laksamana Cheng Ho mengunjungi nusantara. Salah satu daerah tujuannya adalah Cirebon. "Selain membawa misi penyebaran Islam, Cheng Ho juga sering melakukan barter komoditas yang ada di Cirebon dengan yang dibawanya," kata Dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon itu.

Salah satu bentuk barter yang dilakukan saat itu adalah pertukaran terasi dengan ilmu pengetahuan tentang pengelolaan pelabuhan atau kesyahbandaran. "Awalnya seperti itu, tapi lama-kelamaan Cheng Ho selalu membawa terasi tersebut ke negerinya. Hingga terasi menjadi terkenal," jelasnya.

(Sumber: merahputih)

Comments

Leave your comment

Top